Sehati, Sesuara, Setindak Bangun NTT (3)

Sabtu, 01 November 2008


Oleh Tony Kleden

TIGA
jam dialog di Aula Yustinus Atma Jaya Jakarta, Sabtu (11/10/2008) malam, itu menghasilkan banyak sekali masukan, saran, pendapat, usul untuk duet Gubernur-Wakil Gubernur NTT lima tahun ke depan.
Panitia dialog juga menyatakan kegembiraannya karena baru kali ini gubernur dan wakil gubernur hadir bareng menemui warga NTT di tanah rantau. Oleh panitia hasil dialog itu disebut Gagasan Jakarta. Penyerahan Gagasan Jakarta malam itu itu agak hambar karena bersamaan dengan berita duka kematian ayahanda Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya. Meski begitu, duet Frans-Esthon tetap bergairah dan antusias menerimanya sebagai masukan berarti dan berharga.

Banyak sekali gagasan, ide, pemikiran menarik dan kritis yang disampaikan. Ide, pemikiran dan gagasan itu disampaikan secara plastis, langsung, tanpa tedeng aling-aling. Gubernur juga terang- terangan membeberkan kondisi riil yang ada sekarang. Angka- angka yang menunjukkan keberhasilan dan kegagalan dipaparkan. Potensi dan hambatannya ditunjukkan. Banyak yang geleng-geleng kepala melihat betapa daerah ini dalam hampir semua variabel kemajuan lebih buruk dari rata-rata nasional. Tingkat kemiskinan mencapai 27 % dari total 4,4 juta warga. Kepala Keluarga (KK) miskin bahkan lebih tragis lagi, 58 %. Kematian ibu dan anak, gizi buruk, busung lapar, dan sebagainya dan sebagainya, semuanya selalu lebih jelek dibanding rata-rata nasional.
Memilukan. "Tetapi ini hanya bisa kita atasi kalau ada solidaritas di antara semua kita, warga NTT, baik yang di NTT maupun yang ada di tanah rantau. Kalau Institut Leimena, Jakarta ingin menyumbangkan sesuatu untuk NTT, mudah- mudahan warga NTT di rantau juga bisa ikut menyumbang untuk membangun NTT," pinta Gubernur Lebu Raya.
Para narasumber yang diminta berbicara juga berbicara tanpa beban. Tidak sembunyi-sembunyi. Omong lurus. Gaya khas orang NTT. Dr. Daniel Dhakidae tajam dan kritis. Aloysius Kiik Ro buka-bukaan. Agus Toepoe santai tapi menusuk.
Ben Mboi ketika didaulat untuk berbicara, lebih banyak mengritik program-program, terutama program jagung yang digagas. Jagung, menurut Ben Mboi, tidak tepat mengingat hujan semakin tidak tentu akibat perubahan iklim global. Ben Mboi juga meminta duet Lebu Raya-Esthon lebih realistis dan tidak membuat perencanaan yang muluk-muluk.
Di era otnomi daerah sekarang, Ben Mboi minta gubernur-wakil gubernur selalu membangun koordinasi dengan para bupati/walikota sebab wewenang eksekutif di propinsi dibatasi oleh UU Otonomi.
Kritikan pedas, tajam, menukik, sarkastis dengan gaya penyampaian berapi-api ala NTT sejatinya adalah bukti tanggung jawab warga NTT terhadap daerahnya. Semuanya adalah tanda nyata kecintaan warga NTT di mana pun agar Nusa Flobamora segera bangkit dan jangan cuma bisa terkenang karena serba kekurangan. Ruangan yang penuh adalah bukti kecintaan itu. Mereka gerah melihat kondisi NTT hari ini. Mereka geram karena dana begitu banyak digelontorkan, sudah delapan gubernur memegang kemudi, toh biduk NTT belum kunjung merapat di dermaga impian.

Kecintaan itu juga ditunjukkan lagi warga Jakarta dan sekitarnya pada hari Minggu (12/10/2008) pagi, ketika bersama-sama menghadiri misa syukuran di Gereja Paroki St. Tomas, Kelapa Dua, Depok. Perayaan ekaristi inkulturatif khas NTT di markas brimob itu dipadati ratusan warga NTT. Kain sarung khas NTT dari beragam etnis terlihat di dalam gereja. Tarian-tarian daerah NTT diragakan. Semuanya menyatu dalam satu nafas, nafas NTT. Harmoni dalam satu warna, warna NTT.
Misa dipimpin Uskup Agung Ende, Mgr. Vincentius Sensi Potokota, Pr dengan pengkotbah, Pater Alex Lanus, OFM. Dengan iringan lagu-lagu khas daerah NTT, terasa seperti sedang mengikuti misa di NTT.
Dari gereja, acara pindah ruangan di sebelahnya, ke aula paroki. Tidak formal. Semua yang hadir lebih banyak berdiri. Meja bundar cuma beberapa, khusus untuk rombongan wakil gubernur. Selebihnya berdiri, pesta gaya Jakarta.
Acara dimulai. Seperti biasa, sambutan-sambutan. Pastor paroki, Uskup Agung Ende dan wakil gubernur berbicara. Semuanya sama, satu nada. Mengasah solidaritas, menajamkan kebanggaan sebagai orang NTT. Dengan keragaman budaya dan etnis, kata Uskup Sensi, NTT harus bisa dibangun dengan nilai-nilai khas NTT. Tidak perlu latah meniru gaya lain, budaya lain. Orang NTT, kata Uskup Sensi, harus bangga menyatakan jatidirinya sebagai orang NTT.
Semua warga NTT mesti bangga menjadi orang NTT. Dari kebanggaan itu akan lahir kecintaan. Dari kecintaan itu akan muncul tanggung jawab. "Jangan terlalu NTT menjadi nasib tidak tentu atau nanti tuhan tolong," kata Uskup Sensi.
Harapan yang sama juga disampaikan Wakil Gubernur, Esthon Foenay. Foenay membeberkan aneka program yang akan dilakukan lima tahun ke depan. Kepada seluruh warga NTT, Foenay mengajak untuk bersatu, mengasa solidaritas membangun NTT. Perbedaan-perbedaan budaya, etnis jangan menghambat solidaritas untuk membangun dan membuat nasib propinsi ini tambah sulit. "NTT sudah sulit. Jangan lagi mempersulit kekerabatan di antara kita," kata Foenay.
Tahun ini NTT berusia emas. WJ Lalamentik meletakkan dasar- dasar pemerintahan pada awal tualang propinsi ini. Mottonya yang sangat terkenal berbunyi, "Semua kesulitan itu ada untuk dipecahkan." El Tari dikenang dengan programnya, "Tanam, Tanam, Sekali Lagi Tanam". Ben Mboi terkenal dengan operasi nusa hijau (ONH) dan operasi nusa makmur (ONM). Hendrik Fernandez tampil dengan Gerakan Membangun Desa (Gerbades) dan Gerakan Meningkatkan Pendapatan Asli Rakyat (Gempar). Herman Musakabe meracik program strategis bernama Tujuh Program Strategis Membangun NTT. Piet A Tallo mengajak masyarakat membangun dari apa yang ada melalui program Tiga Batu Tungku.
Pasti semuanya dirancang, dikemas dengan satu harapan, yakni NTT 'lepas landas' dari aneka kesulitan dan serba kekurangan. Kita butuh semangat bersama, kesatuan yang kuat tidak cuma sehati sesuara, tetapi juga sehati, sesuara dan setindak membangun NTT.
Tak terasa sudah tiga bulan duet Lebu Raya-Esthon Foenay dilantik. Sudah lebih 100 hari pasangan ini memegang kemudi NTT untuk lima tahun tahun ke depan. Akankah semuanya berjalan mengalir begitu saja? (habis)

Pos Kupang, 1 November 2008
Read More...

Tau Ko Sonde, Beta di Oepura... (2)


Oleh Tony Kleden


HARI Sabtu, 11 Oktober 2008. Sudah lepas tengah hari. Lewat sejam lebih warga NTT telah merapat ke kampus Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta. Mereka datang dari berbagai sudut Jakarta dan sekitarnya. Panitia mesti membatasi undangan. Khawatir tak tertampung.
Tetapi Aula Yustinus di lantai lantai 14 Universitas Atma Jaya di Jalan Sudirman yang padat kendaraan di senja hari itu tetap saja sesak. Pengunjung meluber. Banyak yang terpaksa berdiri di luar karena tak kebagian kursi. Mereka rela berdiri. Ingin mendengar langsung seperti apa duet Gubernur Frans Lebu Raya-Esthon Foenay melayari biduk NTT menuju tepian impian.

Tokoh-tokoh NTT hadir. Di kursi deretan depan duduk antara lain Dr. Jan Riberu, mantan anggota DPR RI. Persis di sebelah kanannya duduk berdampingan dr. Ben Mboi dan Ibu Nafsiah, mantan Gubernur NTT. Di sebelah kanan pasangan ini duduk Cypri Aoer. Terlihat juga Agus Toepoe, Blasius Bapa, Dr. Daniel Dhakidae, Drs. Frans Meak Parera, Dr. Aloysius Madja, Cypri Aoer, Zainal Nampira.
Yang muda-muda dan lagi menanjak di lingkungan kerja masing- masing juga banyak yang hadir. Ada Pieter Gero dari Kompas, Dr. Ignatius Iryanto, Dr. Aloysius Kiik Ro Direktur PT Danareksa. Dari Atma Jaya lebih banyak lagi yang hadir. Ada Wakil Rektor III, Drs. Yohanes Temaluru, M.Psi, Dr. Mikael Dua, Dr. Andre Ata Ujan.
Semuanya antusias. Semangat empat lima. Ingin mendengar suara gubernur dan wakil gubernur. Selain ingin mendengar langsung, acara itu juga dihelat untuk memberikan 'oleh-oleh' berupa gagasan dan harapan warga NTT di Jakarta kepada duet pemimpin yang telah dilantik tiga bulan itu.
Masukan itu dirancang dalam dua babakan pemaparan berupa sumbang saran dan tanggapan dari beberapa narasumber. Di bidang pendidikan tampil Dr. Daniel Dhakidae dan Drs. Frans Meak Parera. Bidang kesehatan tampil dr. Eddy Lamanepa, MPH dan Zainal Nampira. Bidang ekonomi Drs. Agus Toepoe, MM, Dr. Aloysius Kiik Ro dan Dr. Aloysius Madja. 'Manggung bareng' ini dimoderatori Dr. Mikael Dua dan Dr. Andre Ata Udjan.
Suasana tidak formal. Santai dan cair. Gubernur memaparkan rencana kerja lima tahun ke depan. Agenda-agenda besar dibeberkan. Dari pendidikan hingga pertanian. Dari kesehatan sampai ekonomi.
Selepas gubernur, kesempatan pertama diberikan kepada Dr. Aloyius Kiik Ro, Direktur PT Danareksa (Persero). Semua terkesima ketika mendengar gambaran situasi ekonomi yang disampaikan Kiik. Gambaran ekonomi NTT, peluang ekonomi yang mesti dibangun di NTT dibeberkan Kiik dengan baik.
Terkait dengan pembangunan di NTT, ada dua hal menarik yang dicatatnya. Pertama PD Flobamor. Perusahaan milik Pemda NTT ini dikritiknya karena tidak banyak membawa manfaat. Mengapa? "Business of goverment is to goverment," kritiknya. Tajam tetapi sangat menusuk. Artinya, pemerintah tidak bisa menjalankan usaha bisnis. "Bisnis adalah privasi," kata Kiik, pria asal Timor Tengah Utara ini.
Hal kedua, soal website. Kiik punya kisah. Sekali waktu di tahun ini, Kiik berbicara dalam sebuah seminar terhormat. Dia ingin menggambarkan peta dan potensi ekonomi NTT. Maka, masuklah dia ke website Pemda NTT. "Saya buka alamat itu. Masuk. Tetapi apa yang saya dapat? Data-data dan tampilan di website itu terakhir di-update 5 Januari 2004," kata Kiik. Seisi ruangan itu pun 'picah ketawa.'
Cerita Kiik belum titik. Dia kemudian menghubungi dua nomor kontak person yang tertera di website itu. Nomor pertama tidak diangkat. Nomor kedua diangkat. Di balik sana, terdengar suara seorang ibu. Kiik menjelaskan identitasnya dan apa yang ingin dicarinya. Apa jawabannya? "Lu nih... Lu tau ko sonde, beta lagi di Oepura...." Geerrrr... Aula Yustinus Atma Jaya di rembang petang itu seolah runtuh. Tertawa meledak. Astaga.
Kisah nyata ini lucu. Sangat lucu. Tetapi kelucuan itu sekaligus mencerminkan sebuah kekonyolan. Sudah empat tahun sebuah website -- yang biasanya di-update setiap menit -- tidak di- update. Entahlah ada anggaran rutin bulanan untuk operasional yang berarti juga di-update setiap saat.
Teringat keberadaan dan kiprah instansi semisal Balai Diklat, Dinas Infokom, Biro Humas, Badan Perpustakaan Negara, Penelitian dan Pengembangan kalau urusan meng-update informasi, memasukkan data-data di sebuah website sederhana saja tidak jalan-jalan. Jika seperti itu, bagaimana orang luar mau mengetahui dan mengikuti perkembangan NTT?
Kritikan dan saran juga dialamatkan kepada mental para PNS di NTT. Para 'abdi negara' ini lebih cenderung menampilkan diri sebagai 'abdi dalem' yang memposisikan diri sebagai tuan. "Di NTT yang kaya itu kan nomor satu PNS, nomor dua pedagang, nomor tiga yang orangtuanya di Jawa," kata Agus Toepoe.
Agus juga menyebut korupsi di kalangan PNS sebagai kebiasaan yang sudah dilumrahkan. "Kalau PNS mentalnya seperti ini, NTT tidak akan maju-maju. Saya minta bapak gubernur atasi masalah korupsi di NTT," pinta Agus Toepoe.
Di sektor pendidikan, Dr. Daniel Dhakidae menganjurkan agar Pemda NTT membangun sekolah dasar (SD) yang hebat dan bermutu. Anjuran ini sudah tentu datang dari keprihatinan betapa lulusan NTT dari tahun ke tahun selalu jeblok. "SD harus dibikin jadi yang terbaik. Pemerintah tidak perlu urus unversitas. Universitas itu tanggung jawab swasta," kata Daniel.
Mantan Kepala Litbang Harian Kompas ini mendasarkan pemikirannya pada asumsi bahwa jika pendidikan dasar tidak kuat, maka level pendidikan di atasnya akan mudah sekali rapuh.
Sementara Drs. Frans Meak Parera menganjurkan pemerintah berani membangun pusat kurikulum di NTT. Frans sangat gusar melihat wajah dan terutama mutu pendidikan di NTT saat ini. "Dulu sekolah-sekolah di NTT sangat bermutu dan terkenal. Sekarang tidak ada apa-apa lagi. Karena itu saya anjurkan agar dibangun pusat kurikulum di NTT. Ketika di Hokeng (Flores Timur), saya dengar banyak sekali dana Silpa, dana yang tidak bisa diserap dan harus dikembalikan ke pusat. Pakai saja dana itu untuk memperbaiki mutu pendidikan di NTT," kata Frans.
Frans juga menganjurkan agar pemerintah mesti segera membangun perpustakaan-perpustakaan dan menyiapkan buku- buku bacaan bermutu untuk menyelamatkan wajah pendidikan NTT yang terus dirundung durja.
Website yang out of date, kritikan terhadap etos PNS, harapan memperkuat SD dan membangun perpustakaan adalah hal-hal kecil dan terkesan sepele. Tetapi serpihan-serpihan kecil dan sederhana bisa mengukir sebuah prestasi besar dan luar biasa. (bersambung)

Pos Kupang 31 Oktober 2008
Read More...

Mereka Tanya Hal yang Sederhana (1)


Oleh Tony Kleden

SUDAH
bukan hal baru dan mengejutkan manakala mendengar dan membaca kritikan bernada minor tentang NTT. Miskin, melarat, busung lapar, gizi buruk, sangar-sangar adalah sederetan stigma yang paling menyakitkan di telinga.
Nama propinsi ratusan pulau nan indah ini pun diplesetkan aneh- aneh. Nasib Tidak Tentu, Nanti Tuhan Tolong, Nasib Tergantung Tindakan. Di musim kemarau, saat Kota Kupang ramai dengan aksi bakar-membakar dan menyisahkan batu-batu cadas, NTT diplesetkan lagi menjadi Nona Tidur Telanjang.

Rada lucu dan menjengkelkan mendengar plesetan seperti itu. Galibnya, plesetan itu cuma melemahkan spirit, mematikan semangat dan memasung daya kreasi.
Niat menghilangkan aneka stigma seperti itulah yang mendorong Gubernur-Wakil Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya-Ir. Esthon L Foenay, M.Si, membuang langkah ke Jakarta, Jumat- Sabtu (10-11/2008) lalu. Hari Jumat (10/10/2008) malam di Restoran Pulau Dua, Jakarta, Gubernur Lebu Raya bertemu dengan sejumlah pengusaha yang dihimpun Institut Leimena, Jakarta. Dari Institut Leimena hadir antara lain Jakob Tobing dan beberapa pengurus.
Akrab suasana malam itu. Meja-meja bundar terisi penuh. Sekitar 30-an orang hadir. Lebih banyak dari Jakarta. Mereka adalah para pengusaha dengan feeling bisnis tajam. Mereka mewakili grup-grup bisnis yang punya nama beken di negara ini. Dari Grup Ciputra hadir Cakra Ciputra, putra Ciputra. Edwin Suryajaya dari Grup Suryajaya. Albert Salim dari Salim Grup dan beberapa yang lain.
Di hadapan para pengusaha itu Gubernur Lebu Raya membeberkan kondisi NTT, memetakan potensi-potensi yang ada dan menunjukkan peluang-peluang bisnis yang bisa ditangkap.
Menurut Gubernur Lebu Raya, sudah terlalu lama NTT dikesankan sebagai daerah yang serba kurang. Kurang ini, kurang itu. Lemah ini, lemah itu. Kesan yang kemudian berubah menjadi mitos adalah miskin. NTT terlanjur identik dengan kemiskinan. "Saya sudah minta kepada warga NTT agar stigma miskin itu dihentikan. Tidak boleh lagi omong NTT miskin. Sebab stigma itu tidak ada nilai positifnya, cuma melemahkan semangat untuk bangkit, untuk bangun. NTT masih banyak potensi yang butuh sentuhan, butuh perhatian," kata Gubernur Lebu Raya.
Di laut NTT kaya raya. Ikan, teripang, rumput laut, mutiara. Apalagi sepertiga luas NTT adalah lautan. Anehnya, kata gubernur, melaut belum terlalu mentradisi di NTT. Warga asli NTT yang turun ke laut cuma segelintir nelayan di Flores Timur, Lembata, Rote, Ende. Selebihnya datang dari Bugis, Makassar, Buton, Kendari dan menetap di NTT. Mereka ini yang lebih bernyali membelah ombak di perairan NTT hingga menjadi kaya raya. "Banyak orang NTT biar tinggal di pinggir pantai, tetapi membelakangi laut," kata gubernur.
Di darat NTT kaya mineral. Emas, barit, mangaan, semen, panas bumi. Apa yang tidak ada di NTT? "Nah, karena itu pertemuan malam ini sangat berarti. Saya ajak semua kita dalam ruangan ini mari bantu NTT, mari bersama-sama bangun NTT. Pemerintah siap membantu, siap memperlancar segala urusan. Ciputra bangun hotel di mana-mana, saya tunggu Hotel Ciputra di NTT," tantang Gubernur Lebu Raya.
Selepas gubernur membeberkan kondisi NTT berikut potensi yang laik garap, sejumlah pertanyaan terlontar dari kalangan pengusaha Jakarta. Pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan sederhana saja. Apakah di NTT ada pelabuhan peti kemas? Bagaimana kondisi jalan raya menuju pelabuhan? Ada hotel yang baik dan representatif? Bagaimana jalur teleponnya? Itulah beberapa pertanyaan yang diajukan dalam pertemuan itu.
Sederhana? Mungkin ya. Tetapi untuk pengusaha, fasilitas seperti ini adalah vital. Vital karena akan sangat menentukan maju mundurnya suatu aktivitas industri. Mimpi kita umumnya di langit ketuju. Konsentrasi kita adalah bangunan-bangunan besar, proyek-proek mercusuar. Kita lupa yang kecil-kecil, yang sederhana-sederhana, tetapi vital. Sekali lagi vital.
Terkenang Kawasan Industri (KI) Bolok dengan seorang 'manejer' beberapa tahun lalu. Teringat Kapet Mbay, nun beberapa dekade lampau. Terbayang pabrik Semen Kupang hari- hari ini. Terusik dengan Perusahaan Daerah Flobamor yang lebih banyak didonor dana dari APBD, tanpa banyak mendonor.
Seberapa berhasil aset-aset ini memberi maslahat untuk warga NTT? Cerobong pabrik Semen Kupang mengepul sejak masa Ben Mboi. Kapet Mbay sejak Herman Musakabe. KI Bolok sejak Piet A Tallo. Tetapi situasi dan kondisi tidak membaik. Aset-aset ini lebih banyak hanya punya nama besar, ketimbang manfaatnya.
Maka ketika mendengar pertanyaan-pertanyaan substansial dari para pengusaha Jakarta, rasanya NTT masih sangat jauh dari bayangan para pemodal di negeri ini. Propinsi yang telah menyumbang begitu banyak tokoh intelektual buat negeri ini, mengirim begitu banyak rohaniwan ke begitu banyak negara di dunia terkesan masih begitu tertinggal dan sama sekali tidak masuk agenda ekspansi usaha para pemodal.
Terhadap pertanyaan-pertanyaan seperti itu, Gubernur Lebu Raya menjelaskan, fasilitas pendukung sebetulnya tidak terlalu jelek. NTT tidak terlalu jeleklah seperti yang didengar. Apa yang dibayangkan selama ini sebagai kurang, tidak semuanya benar. "Kita di NTT punya satu kawasan industri yang kita sebut Kawasan Industri Bolok. Kawasan ini dekat dengan pelabuhan. Pelabuhan ini juga bisa untuk pelabuhan peti kemas. Kondisinya cukup bagus. Ada hotel berbintang dengan fasilitas standar," kata Gubernur Lebu Raya meyakinkan para pengusaha itu.
Gubernur Lebu Raya memahami kegundahan, keraguan dan kecemasan para pengusaha itu menanam modalnya di NTT. Karena itu berkali-kali gubernur meminta perhatian lebih para pengusaha Jakarta untuk berani menanam modalnya di NTT. Investasi, kata gubernur kepada para pengusaha itu, ada untung dan ruginya. "Mungkin ada kerugian dari sisi bisnis, tetapi juga ada untung secara sosial. Karena itu saya mengajak siapa saja yang berkemauan baik untuk tolong bangun NTT ke depan. Berikan perhatian lebih untuk NTT," ajak Gubernur Lebu Raya.
Ruangan Restoran Pulau Dua, Jakarta malam itu aram-temaram. Ikan bakar, minuman ringan, buah-buahan sudah lenyap separuh. Berpindah tempat, dari meja ke perut. Tetapi pertemuan malam itu tidak boleh berhenti di situ. Harapan tetap perlu dilambungkan. "Malam ini kita sudah berkumpul. Ini langkah awal, dan harus ada follow up-nya. Pertemuan malam ini tidak boleh sampai di sini saja. Saya tunggu di Kupang," kata Gubernur Lebu Raya. (bersambung)

Pos Kupang, Kamis 30 Oktober 2008
Read More...

AIDS di Flores Timur, Surga dan Dunia Bertemu

Senin, 27 Oktober 2008

Oleh Tony Kleden


CUACA
di salah satu ruangan Rumah Retret Susteran PRR Weri, Kamis (18/9/2008) lalu, sangat gerah. Meski di ketinggian, di tengah rimbunan jambu mete, jambu air dan kelapa, semua peserta tak kuasa menahan gerah. Panas luar biasa. Keringat bercucuran. Kipas angin tidak cukup. Dengan apa yang bisa dipakai, para peserta sibuk mengipas-ngipas badan.
Tetapi cuaca yang gerah itu tak ada bandingannya dengan hati yang gerah melihat data-data hasil survai yang dilakukan oleh PKBI NTT dan WVI Larantuka terkait dengan perilaku berisiko terhadap HIV-AIDS.


Beberapa dekade lalu, wajah Larantuka masih asli. Sekarang? Sudah banyak berubah. Sepuluh tahun lalu, Kota Larantuka relatif masih bersih dari urusan syawat liar. Kota Reinha masih menampakkan ciri dan citranya sebagai sebuah kota dengan tradisi Katolik yang kental.
Tak dinyana, dalam rentang waktu sepuluh tahun, seks telah tumbuh menjadi industri, meski tetap liar juga karena tidak diatur dalam sebuah perangkat aturan semacam peraturan daerah (Perda). Teringat kisah, beberapa tahun lalu petugas pemerintah di Kota Larantuka terbiasa main petak umpet dengan para pekerja seks. Kejar sana kejar sini. Tangkap sana tangkap sini. Usir sana usir sini.
Ketika seks menjadi salah satu segmen industri, dia tampil apik dan elegan. Jika sebelumnya urusan syawat bersifat jalanan, maka sekarang dia sudah mendapat kemasan menarik. Sudah punya merk dagang. Dia tidak lagi 'dipajang' di pinggir-pinggir jalan, tetapi sudah masuk ke kamar-kamar losmen. Transaksinya tidak lagi di tempat gelap, tetapi sudah di meja-meja pub dan karaoke. Konsumennya juga multisegmen. Dari anak-anak hingga orangtua. Dari pegawai kantoran hingga para nelayan.
Survai terhadap para remaja mengungkapkan bahwa 33,5 persen remaja yang sedang pacaran pernah melakukan hubungan seks. Yang mengejutkan, ada juga remaja yang berhubungan seks tidak cuma dengan teman atau pacarnya, tetapi juga pekerja seks. Perilaku seperti ini tentu saja berisiko. Tetapi yang jadi soal bukan cuma risiko itu sendiri, tetapi juga dan terutama rendahnya kapasitas pengetahuan remaja terhadap kesehatan reproduksi. Artinya, kebanyakan mereka sama sekali belum tahu apa dampaknya ketika berhubungan seks dengan seorang pekerja seks.
Posisi remaja perempuan justru lebih berisiko lagi. Remaja perempuan menghadapi dua ancaman sekaligus ketika memutuskan untuk melakukan hubungan seks saat dimabuk kasmaran dengan pacar. Risiko reproduksi seperti kehamilan sudah pasti bisa diperhitungkan. Namun hal yang sangat tidak terduga adalah risiko infeksi IMS dan bahkan HIV ketika pasangan seksual remaja puteri sesungguhnya berperilaku seks berisiko karena mempunyai pasangan seks lainnya yang adalah pekerja seks.
Survai itu juga memperlihatkan bahwa remaja di daerah pedesaan saat ini berada dalam sebuah situasi perilaku berisiko terhadap IMS dan HIV-AIDS. Kondisi ini akan semakin memburuk ketika tidak ada upaya intervensi program yang bisa meningkatkan pengetahuan, pemahaman, kesadaran sehingga berdampak pada perubahan sikap dan perilaku. Pada tataran ini konsep pengembangan program remaja menjadi penting, dibutuhkan dan perlu didesain dengan mempertimbangkan karakteristik remaja.
Hal menarik dan mengejutkan lainnya dari survai itu adalah toleran dan permisifnya para pekerja tempat hiburan malam (PTHM) terhadap para tamu laki-laki. Menurut survai itu, bukan hal yang luar biasa kalau para para PTHM itu melayani para tamu untuk kebutuhan 'luar-dalam'. Kebutuhan luar menyangkut dunia. Yang dalam menyangkut surga. Di mana para PTHM malam itu melayani tamu? "Kami bisa melayani mereka di halaman-halaman dengan mematikan lampu," tutur John D Mangu menirukan jawaban para PTHM. Surga dan dunia menyatu di Kota Reinha.
Nah, apa yang harus dilakukan? Dalam workshop semua peserta terperangah dan prihatin. "Tetapi kita tidak bisa berhenti di sini. Ke depan, pemerintah mesti melakukan sesuatu yang berguna. SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) yang terkait dengan HIV-AIDS silahkan mengajukan dana untuk sosialisasi," kata Wabup Flotim, Yosni Herin, ketika membuka workshop itu.
Kata kuncinya, cuma satu. Hadapi bersama. Maka yang dibutuhkan adalah intervensi secara terpadu stakeholder yang terlibat dalam urusan kemanusiaan ini. John Mangu dan Adi Lamury juga menegaskan pentingnya intervensi itu. "Dari wawancara kami, para responden meminta perlu sebuah intervensi pemberdayaan, pengetahuan dan keterampilan berperilaku secara aman, sehat dan bertanggung jawab. Isu HIV-AIDS sesungguhnya ada di permukaan masalah yang muncul karena tidak adanya basik pengetahuan pada remaja mengenai kesehatan reproduksi, kesehatan seksual, pendidikan budi pekerti, keterampilan menghargai tubuh sendiri dan orang lain, mental kepribadian dan berbagai aspek sosial budaya lainnya yang tidak secara sistematis diinternalisir kedalam proses tumbuh kembang remaja," kata John Mangu.
Itu saja kuncinya. Jika Pemkab Flotim di bawah duet Drs. Simon Hayon-Yosni Herin, S.Sos, mematok pembangunan sumber daya manusia sebagai fokus utama, niscaya HIV-AIDS tidak lagi sekadar isu, tetapi mesti dilihat sebagai masalah. Setuju? (habis)

Pos Kupang Jumat 24 Oktober 2008
Read More...

AIDS di Larantuka, Masuk 'Jalur Merah'

Oleh Tony Kleden

"SAYA
menganjurkan agar di Larantuka ada lokalisasi (pekerja seks)." Anjuran itu datang dari Frans Laja, salah seorang peserta workshop Rapid Assesment and Respons Terhadap Penularan HIV/AIDS di Rumah Retret Susteran PRR, Weri, Larantuka, Kamis (18/9/2008) lalu. Frans bukan sembarang peserta. Dia adalah pegiat LSM yang sudah lama berurusan dengan masalah HIV-AIDS. Karena itu, pastilah Frans dengan penuh kesadaran dan penuh pemahaman menyampaikan anjurannya.
Semua peserta terpana. Diam. Ada yang bahkan tergagap. Tak pernah menyangka akan datang anjuran seperti itu. Tak menyangka karena membayangkan reaksi besar warga Larantuka dan sekitarnya. Membangun lokalisasi di Kota Reinha? Gila!


Sebagai moderator, saya menangkap kegundahan para peserta itu. Saya membayangkan resistensi yang begitu hebat dari warga Larantuka. Saya teringat, sejauh ini PKBI NTT belum berani menempatkan ATM kondom di lokalisasi Karang Dempel (KD) Tenau, Kupang. Padahal, mesin itu sudah diresmikan penggunaannya tahun lalu oleh Gubernur NTT (ketika itu) Piet Tallo. Kepada para peserta saya juga menuturkan, ketika Walikota Kupang, Drs. Daniel Adoe, baru melontarkan wacana untuk membangun rumah bordir di Kota Kupang, beragam reaksi muncul.
"Taruhan, warga Larantuka akan mati-matian menolak jika hendak dibangun lokalisasi di Larantuka. Kenapa? Kota ini adalah Serambi Vatikan. Dengan kemajuan teknologi telekomunikasi seperti saat ini, dalam waktu sekejap seluruh dunia akan heboh manakala mendengar di Larantuka telah ada lokalisasi. Dari Larantuka ke Kupang. Dari Kupang ke Jakarta. Dari Jakarta entah ke mana lagi. Dan seterusnya dan seterusnya hingga sampai juga ke Kota Suci, Roma," saya coba memecahkan kebekuan.
Mungkin ide gila membangun sebuah lokalisasi di Kota Reinha. Tetapi ketika Frans mengajukan pendapatnya dengan penuh kesadaran, sudah tentu dia sudah melihat lebih jauh, telah menimbang untung ruginya apa yang bakal terjadi jika ada lokalisasi dan apa yang juga bakal datang jika tidak ada lokalisasi di Kota Reinha.
Hari itu, kepada para peserta dibeberkan hasil survai yang dilakukan atas kerja sama antara Wahana Visi Indonesia (WVI) ADP Larantuka dengan PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) Daerah NTT tentang perilaku berisiko terhadap bahaya HIV-AIDS. Survai itu dilakukan selama 14 hari di 12 desa binaan WVI Larantuka. Meski belum bisa dikatakan hasil itu menjelaskan seluruhnya tentang kondisi Flores Timur, tetapi survai itu kurang lebih telah mengungkap apa yang selama ini tak pernah terbayangkan. Banyak hal dan fakta terkuak ke permukaan.
Frans Laja, pria asal Manggarai yang meniti hidup di Tanah Nagi, mungkin gila. Tetapi Tanah Nagi butuh orang gila dengan ide-ide yang juga gila. Soalnya, hal ihwal tentang HIV-AIDS terkesan masih begitu baru di Flotim. Pemerintah belum menunjukkan perhatian serius, terutama dalam hal kebijakan anggaran. Tak ayal, Wakil Bupati Flotim, Yosni Herin, sering-sering mesti mencopot dana dari pos anggaran wakil bupati manakala turun ke desa melakukan sosialisasi.
Kalangan Dewan yang palu godamnya begitu berkuasa dalam mengatur alokasi dana juga sama jo. Workshop itu mestinya juga dihadiri kalangan Dewan. Undangan sudah disebar. Apesnya, yang datang cuma salah seorang wakil ketua. Itu pun hanya pada acara seremoni pembukaan. Padahal, kehadiran anggota DPRD sangat penting untuk memikirkan agenda yang berdampak begitu luas ini.
John D Mangu dan Adi Lamury dari PKBI NTT dalam pemaparan hasil survai itu menjelaskan panjang lebar tentang bahaya HIV-AIDS yang tidak lagi jauh, tetapi sudah datang. Untuk angka kasus HIV-AIDS, Flotim masih di bawah Kota Kupang, Kabupaten Belu dan Sikka. 'Baru' tiga belas menurut data resmi yang dikeluarkan KPAD Flotim. Tetapi Wakil Bupati Flotim, Yosni Herin, berani menyebut angka 26 pengidap.
Angka 13 dan 26 tentu berbeda. Tetapi angka ini menegaskan satu hal yang sama, yakni bahwa Flores Timur tidak lagi aman terhadap HIV-AIDS. Masalah HIV-AIDS tidak lagi masalah kecil dan karena itu luput dari perhatian. Dari pemaparan John Mangu dan Adi Lamury tertangkap kondisi tidak aman itu. Keduanya menjelaskan bagaimana rotasi para pekerja seks itu hingga tiba di Larantuka. Ada dua jalur masuk ke Larantuka. Jalur pertama, Kupang-Atambua-Kalabahi-Lewoleba-Larantuka. Jalur kedua, Surabaya-Labuan Bajo-Maumere-Larantuka. Dari jalur rotasi ini, jelas kalau Larantuka, Kota Reinha itu masuk dalam 'jalur merah' perjalanan para pekerja seks.
Berbeda dengan Flores Timur, pemerintah kabupaten di semua 'jalur merah' ini lebih respons dan tidak tinggal diam. Di Kota Kupang, ada puluhan LSM peduli HIV-AIDS. Pemkot Kupang juga telah menggagas Ranperda HIV-AIDS. Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Kupang sejauh ini adalah yang terbaik di NTT. Staf oke, sekretariat representatif, anggaran no problem. Dan, duet Dan Adoe-Dan Hurek punya konsern tinggi.
Di Belu, perhatian pemerintah, terutama dalam alokasi anggaran luar biasa. Dalam satu tahun anggaran, ratusan juta digelontorkan untuk sosialisasi. Wakil Bupati Belu, Greg Mau Bili, adalah pimpinan wilayah yang sangat paham dengan urusan HIV-AIDS.
Di Sikka, pemerintah juga lekas tanggap. Rumah Sakit TC Hillers sudah punya VCT (Voluntary Counseling and Testing). Para ODHA (orang dengan HIV-AIDS) juga punya wadah terorganisir dan mendapat perhatian pemerintah. Di Manggarai Barat, perlahan-lahan pemerintah menyadari epidemi ini sehingga semakin memberi perhatian. Lembata nyaris sama dengan Flores Timur. Belum banyak perhatian dan masih melihat masalah HIV-AIDS sebagai masalah remeh temeh.
Seperti di lampu merah, Pemkab Flotim tidak bisa lagi main-main di 'jalur merah'. Kurang awas, kualat akibatnya. Mau kualat? (bersambung)

Pos Kupang, Kamis 23 Oktober 2008
Read More...